Tag Archive | Kelapa Sawit

Penyesalan Selalu Datang Terlambat, Jejak Lori di Sawit Seberang

Come up to meet you, tell you I’m sorry
You don’t know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I set you apart

Sepenggal kalimat diatas merupakan lirik dari sebuah lagu yang berjudul The Scientist milik grup musik rock-alternative asal Inggris Coldplay. Lirik lagu ini menggambarkan sebuah penyesalan  yang amat mendalam ketika seseorang ingin menemui kekasihnya namun semuanya telah terlambat dan tak ada gunanya lagi. Berbicara tentang kata ‘penyesalan’ & ‘terlambat’ maka kita semua pasti pernah mendengar ungkapan “Penyesalan selalu datang terlambat”. Sebuah kalimat sederhana nan bermakna yang pastinya tidak asing lagi di telinga kita. Dan saya rasa sebagian orang pasti pernah mengalami seperti apa yang diungkapkan oleh kalimat sederhana tersebut, termasuklah diri saya sendiri, sehingga saya tergelitik untuk menuliskan sebuah tulisan tentang salah satu cerita ‘penyesalan terbesar’ saya halaman di blog Divre 1 Railfans ini.

Bagi kami & saya secara pribadi salah satu penyesalan terbesar selama menjalani hobby yang sangat saya cintai ini adalah ketika saya dengan mudahnya melewatkan kesempatan dan sama sekali tidak peduli untuk mendokumentasikan salah satu jaringan Decauville Train (Kereta Muntik) di salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di wilayah Sumatera Utara. Jaringan rel kereta muntik yang dimaksud adalah milik PT. Perkebunan Nusantara II (PTPN II) yang berada di Kecamatan Sawit Seberang, Kabupaten Langkat. Padahal jaringan rel lori muntik perkebunan bergauge 700mm di wilayah tersebut merupakan satu-satunya dan yang terakhir dimiliki oleh PTPN yang masih aktif sampai melewati era millenium bahkan hingga medio 2010-an, sedangkan jaringan rel kereta muntik milik PTPN di wilayah lain seperti di perkebunan Dolok Ilir, Kabupaten Simalungun yang jaringan rel-nya membentang puluhan kilometer sampai wilayah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Gunung Bayu dekat stasiun Perlanaan sudah hilang sejak awal tahun 90-an bahkan jejaknya pun sudah sangat sulit untuk ditemukan.

Jaringan rel lori muntik pengangkut kelapa sawit milik PTPN II Sawit Seberang ini memiliki jaringan rel yang sangat luas, jika dilihat dari bekas railbednya mulai dari pabrik hingga ujung terjauh railbed yang masih dapat ditelususuri jaraknya mencapai kurang lebih 10 kilometer, belum lagi ditambah dengan jalur cabang yang terkoneksi dengan stasiun Tanjung Slamat (Lintas Binjai – Besitang) maupun jalur – jalur cabang menuju ke dalam areal perkebunan kelapa sawit yang cukup banyak jumlahnya. Saya tidak tahu pasti berapa kilometer total keseluruhan panjang jaringan rel di wilayah PTPN II Sawit Seberang ini, konon pada era kolonial dulu jaringan rel-nya membentang dan terkoneksi dengan wilayah perkebunan Gohor Lama yang jaraknya kira-kira sekitar 30 kilometer. Hal ini pun dapat dibuktikan dengan beberapa bekas pondasi jembatan rel muntik yang masih bisa dilihat di sisi jalan raya Stabat – Tangkahan.

Tanda panah merah, eks. pondasi jembatan muntik | Foto : Google Street View

Cerita tentang penyesalan ini dimulai dari tahun 2012 ketika kami melakukan penelusuran jalur KA non – aktif Binjai – Besitang, di perjalanan pulang menuju Medan seusai kami mendokumentasikan kondisi stasiun Besitang dan melakukan penelusuran terhadap stasiun Tanjung Pura (pada saat itu kami salah informasi dan malah mendapatkan halte Kuala Pesilam yang pada saat itu kami kira bangunan stasiun Tj. Pura) kami melewati ‘jalan belakang’ karna tujuan kami pada saat itu adalah menuju stasiun Tanjung Slamat yang berada di Kecamatan Padang Tualang. Setelah mendokumentasikan stasiun Tj. Slamat kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Medan, dan sekitar 3 kilometer dari stasiun kami melewati perlintasan rel muntik yang berada di persimpangan persis di depan Kantor Kepolisian Sektor Padang Tualang. Itulah jaringan rel kereta muntik ketiga yang saya lihat di Sumatera Utara selain rel muntik di Bunut & Aekloba yang pertama kali saya lihat tahun 2009.

Foto 1, 2012

Perlintasan sebidang rel menuju ke arah Pabrik

Perlintasan sebidang rel menuju ke arah Pabrik

Foto 2, 2012

Rel bercabang menuju kebun.

Rel bercabang menuju kebun.

2 foto diatas adalah hasil dari kebodohan saya pada saat itu dan juga sesuatu yang harus saya sesali di kemudian hari, kemalasan saya untuk mengabadikan sebanyak – banyaknya apa yang sedang saya lihat pada saat itu menjadi sebuah penyesalan yang tidak ada gunanya. Kenapa? Karna ketika saya punya kesempatan untuk kembali lagi ke tempat itu di bulan Agustus 2015 atau 3 tahun kemudian, semuanya telah berbeda, hilang dan tak akan mungkin kembali lagi.

25 Agustus 2015

11947482_1045305458836654_7174466340083851746_n

tersisa sebagian rel yang tak bisa dicabut/tertimbun

Dibelakang foto kedua dari tahun 2012 ada sebuah lokomotif Muntik Hokuriku bernomor 15 yang teronggok di sisi jalan, kebodohan kedua yang saya sesali kemudian adalah pada saat itu saya tidak mendokumentasikannya, sehingga saya tidak punya dokumentasinya sama sekali. Namun sahabat kami Mbah Deni Okta dan Yudha sempat mendokumentasikannya di bulan November 2014 sebelum lokomotif itu dipindahkan ke areal pabrik dan jaringan relnya pun hilang selamanya.

14620170_1799315770348318_49857920_n

Hokuriku No. 15 | Foto : Yudha

whatsapp-image-2016-10-10-at-9-29-48-am

whatsapp-image-2016-10-10-at-9-29-49-am
Hokuriku No. 15 | Foto : Deni Okta

 

Di awal tahun 2016 secara tidak sengaja saya melihat foto – foto yang sangat luarbiasa milik Mr. Joachim Lutz di account flickrnya, dokumentasi dengan moment yang tidak akan mungkin terulang kembali tentang keberadaan Decauville Perkebunan Kelapa Sawit di wilayah Kabupaten Langkat.

Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang, unweit Medan (Sumatra, Indonesien), Juli 2008

Ket : Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang D 05 (Diema 4428/1980), unweit Medan (Indonesien, Insel Sumatra), 31.7.2008 | Foto : Joachim Lutz

Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang (Sumatra, Indonesien),  Juli 2008

Ket : Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang D 16 II (Hoku 6142-2/1985, HDB-6LS), unweit Medan (Sumatra, Indonesien), 31.7.2008 | Foto : Joachim Lutz

Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang (Sumatra, Indonesien),  Juli 2008

Ket : Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang D 16 II (Hoku 6142-2/1985, HDB-6LS), unweit Medan (Sumatra, Indonesien), 31.7.2008 | Foto : Joachim Lutz

Ketika itulah baru saya tersadar dan berfikir untuk kembali lagi kesana dan berharap masih ada muntik yang beroperasi di sekitar pabrik mungkin masih ada yang mengarah ke selatan pabrik. Namun……

I had to find you, tell you I need you”

Sayang seribu sayang, Ketika saya dan mbah Rio berkesempatan kembali dan menelusuri lebih jauh lagi menuju areal pabrik di bulan Juli 2016 ternyata sudah tidak ada yang beroperasi lagi. Yang ada hanyalah jejak – jejak peninggalan yang menjadi pengingat bahwa di wilayah itu selama berpuluh – puluh tahun pernah beroperasi muntik penarik gerbong kelapa sawit.

Salah satu peninggalan luar biasa yang masih bisa disaksikan adalah Jembatan Baja yang membentang sepanjang 70 meter melintasi sungai Batang Serangan, Fungsi jembatan ini dulunya selain sebagai jembatan untuk jalur muntik juga sebagai satu – satunya jembatan penunjang aktivitas warga yang dilewati oleh kendaraan roda dua sampai kendaraan berat pembawa buah sawit dan truk CPO yang melintas dari/menuju Kota Sawit Seberang. Jembatan baja yang dibangun pada tahun 1931 telah digunakan selama 84 tahun, namun pada tahun 2015 setelah rel yang melintasi jembatan dicabut dan setelah selesainya pembangunan jembatan pengganti yang baru disebelahnya maka jembatan baja ini sama sekali sudah tidak digunakan lagi.

Citra satelit sebelum dibangun jembatan baru | Foto : Google Earth

Citra satelit sebelum dibangun jembatan baru | Foto : Google Earth

Dokumentasi Juli 2016 :

 

Jembatan Muntik

Jembatan Muntik

Deli NY - 1931

Deli NY – 1931

Jembatan Baru & Lama

Jembatan Baru & Lama

Foto akhir tahun 2014 saat jembatan muntik ini masih digunakan kendaraan, masih ada rel-nya :

Akhir 2014 | Foto : Rio Andika

Akhir 2014 | Foto : Rio Andika

Railbed yang tersisa dari jaringan rel kereta muntik di Sawit Seberang, Kab. Langkat :

eks. railbed menuju area pabrik

eks. railbed menuju area pabrik

 

 

eks. railbed menuju kebun

eks. railbed menuju kebun

eks. railbed dengan rel yang tertanam di sisi jalan raya

eks. railbed dengan rel yang tertanam di sisi jalan raya

Akhir dari tulisan kali ini adalah, jangan pernah malas untuk mendokumentasikan sesuatu yang kita senangi, apalagi hal – hal yang memiliki nilai historis tinggi seperti jaringan rel muntik ini. Belanda negara yang menjajah Indonesia meninggalkan banyak hal – hal baik untuk negara ini, tapi sayang untuk merawatnya pun kita tidak bisa, malah menghancurkannya tanpa bisa membangunnya kembali.

Bonus, Pics by Google Live View.

Teronggok dalam pabrik

Teronggok dalam pabrik

 

Salam

[R] – Divre 1 Railfans

 

Iklan

Melihat Lori di Aekloba

Halo, kami punya cerita lagi nih! Cerita kali ini adalah tentang salah satu jaringan Decauville Train di Sumatera Utara atau yang lebih populer dengan istilah “Muntik”. Jaringan “Muntik” yang akan kami bahas adalah jaringan Decauville aktif milik Pabrik PT. Socfindo yang berada di Desa Aekloba, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Berdasarkan cerita yang kami dapat dari salah seorang pekerja di pabrik tersebut adalah bahwa jalur “muntik“ ini jalan setiap hari kerja (senin – sabtu) yang memiliki panjang sekitar 7km dan menghubungkan antara pabrik dengan tempat muat buah kelapa sawit atau yang biasa disebut dengan istilah “tuangan”. Pabrik PT. Socfindo Aekloba sendiri memiliki 2 tuangan buah kelapa sawit yang dilayani oleh jaringan “muntik” ini, pertama mengarah ke perkebunan di wilayah utara pabrik yang melintasi Jalan Lintas Sumatera Medan – Pekanbaru (tuangan 1) sejauh ± 9km dan yang kedua mengarah ke areal perkebunan di wilayah selatan pabrik yang jalurnya berpotongan dengan rel KA aktif Medan – Rantauprapat (tuangan 2) yang berjarak ±5km. Pada saat Divre1Railfans mengunjungi pabrik tersebut pada hari Minggu 10 April 2016 yang lalu, terlihat tidak ada aktifitas di areal pabrik dikarenakan hari libur. Jadi tidak ada juga kegiatan angkutan lori yang melayani lintasan kebun s/d pabrik.

Jadi, langsung saja! Berikut dokumentasi Perjalanan Divre1Railfans menuju Aekloba :

Perjalanan dimulai dari Medan menggunakan KA U44 Sribilah Pagi.

001

CC 201 96 Melayani KA U44 Sribilah Pagi, 10 April 2016.

002

Berangkat Menuju Aekloba, K1 0 81 07.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama 4 jam, 30 menit kamipun tiba di Stasiun Aekloba.

Stasiun Aekloba

Stasiun Aekloba.

Setelah beristirahat sejenak di Stasiun Aekloba kami berjalan ke arah sinyal keluar menuju Medan.

Jalur Lori/Muntik yang memotong rel aktif Kisaran - Rantauprapat

Jalur Lori/Muntik yang memotong rel aktif Medan – Rantauprapat.

Sinyal untuk lori dari arah Kebun (Tuangan 2)

Sinyal untuk lori dari arah Kebun (Tuangan 2)

Rel Lori/Muntik menuju Kebun (Tuangan 1)

Rel Lori/Muntik menuju Kebun (Tuangan 1)

Lihat Relnya 😀

Lebar Penampang Rel Lori yang hanya selebar ruas Jari.

Lebar Penampang Rel Lori yang hanya selebar ruas Jari.

Suasana di Areal Pabrik.

Gerbong Lori Berisi Penuh Sawit di Pabrik Socfindo Aekloba

Gerbong Lori Berisi Penuh Sawit di Pabrik Socfindo Aekloba.

Rangkaian Gerbong yang sudah dibongkar muatannya.

Rangkaian Gerbong yang sudah dibongkar muatannya.

Dan…

The Aekloba Squad!

The Aekloba Squad!

Hanya Stabling Karna Libur.

Hanya Stabling Karna Libur.

'The Number 1' Stabling di Depan 'Bengkel Loco'.

‘The Number 1’ Stabling di Depan ‘Bengkel Loco’.

Yang sedang menjalani perawatan 😀

Gerbong lori yang sedang menjalani Perawatan di 'Bengkel Seksi Gerbong'

Gerbong lori yang sedang menjalani Perawatan di ‘Bengkel Seksi Gerbong’

Narsis Dulu! 😀

DR1RF

DR1RF

Setelah puas mendokumentasikan berbagai hal mengenai lori – lori tersebut kami pun bersiap untuk pulang kembali ke Medan. Tapi sebelum pulang…..

Narsis Sekali Lagi!

Narsis Sekali Lagi!.

Dan akhirnya pada pukul 16.59 jemputan kami menuju Medan datang.

KA U45 tiba di Stasiun Aekloba.

KA U45 tiba di Stasiun Aekloba.

Demikianlah cerita perjalanan kami, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai perkeretaapian di Sumatera Utara.

Salam, Divre1Railfans

%d blogger menyukai ini: