Jadwal Perjalanan Kereta Api Aceh 2017

Berikut jadwal perjalanan Kereta Api Perintis Aceh berdasarkan pola operasi Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2017

KA Aceh Gapeka 2017.jpg

#Divre1Railfans

Iklan

Jadwal KA Bandara Kualanamu 2017

Berikut adalah Jadwal Kereta Api Bandara Kualanamu berdasarkan pola operasi Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2017.

Railink Gapeka 2017.jpg

#Divre1Railfans

Jadwal Perjalanan KRD Sri Lelawangsa 2017

Jadwal Perjalanan KRD Sri Lelawangsa relasi Medan – Binjai PP yang berlaku mulai tanggal 1 April 2017

Sri Lelawangsa Gapeka 2017

#Divre1Railfans

Jadwal Kereta Api Penumpang Divre 1 GAPEKA 2017

Berikut adalah jadwal perjalanan kereta api penumpang di Divre 1 Sumatera Utara untuk pola operasi berdasarkan Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2017 yang berlaku mulai tanggal 1 April 2017.

Sribilah | Medan – Rantau Prapat PP ( Eksekutif – Bisnis )

Sribilah Gapeka 2017

Putri Deli | Medan – Tanjung Balai PP & Siantar Ekspress | Medan – Pematang Siantar PP ( Ekonomi )

Ekonomi Gapeka 2017.jpg

#Divre1Railfans

Divre 1 Railfans Ke Aceh Lagi!

Halo Divre 1 Railfans balik lagi!

Di tulisan kali ini kami akan menceritakan perjalanan kami ke Prov. Nangroe Aceh Darussalam untuk yang kedua kalinya. Pada cerita yang pertama ( bisa dibaca disini dan disini ) tujuan perjalanan kami adalah untuk mengobati rasa penasaran kami dan melihat seberapa jauh progress pembangunan jaringan KA di Provinsi Aceh. Sedangkan pada perjalanan yang kedua kali ini, tujuan utama kami adalah untuk mencoba dan merasakan bagaimana sensasi naik Kereta Api Perintis Cut Meutia yang beroperasi menggunakan rel bergauge 1435mm (Standard Gauge) di lintas Kr.Mane – Kr.Geukuh sejauh 11,3 Kilometer yang baru saja dilakukan soft launching dan dioperasikan kembali oleh pejabat dari PT. KAI dan Kemenhub pada tanggal 3 November 2016 yang lalu (Link Berita).

Perjalanan dimulai dari Medan pukul 22.00 WIB. Kemudian kami sempat singgah di Kota Langsa untuk bersantai dan beristirahat sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan kembali dan tiba di Kota Lhokseumawe pada pukul 05.15 WIB.

Di Kota Lhokseumawe kami pun beristirahat sebentar sembari menunggu hari terang. Setelah beristirahat dan mandi perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Stasiun Kr. Mane untuk naik KA Perintis dari Stasiun tersebut.

Pukul 07.15 kami tiba di stasiun Krueng Mane, dan kami bertiga adalah penumpang pertama di stasiun pada hari itu.

1

Suasana Stasiun Krueng Mane +16m

img_5212

Tiket Thermal U85F, Hanya 1000 rupiah!

3

Padahal Belum Ada Jaringannya Hahaha

jpeg

KRDI tiba di Stasiun Kr. Mane (Foto dari Screenshot Video)

4

Papan Nama Kereta. “Kereta Perintis”

5

Interior KRDI

6

Interior KRDI

7

Kereta Taun 2008 tapi diganti jadi 2013 😛

7a

Peta Jaringan diatas KA.

4a

Pukul 07.30 Kereta berangkat menuju Kr. Geukuh, dengan jaringan rel hanya sepanjang 11,3 km kecepatan operasional KA pun dibatasi hanya 30km/jam. Di lintasan sepanjang 11,3 km ini banyak sekali perlintasan sebidang terutama perlintasan yang menjadi jalan akses warga. Data dari crew JJ menyebutkan ada kurang lebih 250 perlintasan di sepanjang jalur KA dan hanya 5 yang dijaga (WTF!?). Selain perlintasan liar di lintas ini pun banyak hewan ternak yang berkeliaran sehingga terkadang KA pun harus berhenti agar tidak menabrak kawanan hewan tersebut. Dan di lintas ini pun belum terpasang prasarana persinyalan dan telekomunikasi untuk operasional KA.

08.05 KRDI Cut Meutia tiba di stasiun akhir Kr. Geukuh.

9

Kr. Geukueh +9m

8

KRDI di Stasiun Kr. Geukueh (Krukuh)

11

Foto Bareng Duluuu.

12

Lagiiii.

Bonus

10

Kabin Masinis KRDI

Kembali lagi menuju Stasiun awal Kr. Mane dengan Nomor KA U86 F, kami bertemu rombongan anak-anak dari TK Seulanga dan TK Raja Lanyang yang akan berwisata menggunakan moda transportasi ini.

12a

Rombongan di Stasiun Kr. Geukuh

1314

15

Kondektur memberikan penjelasan kepada anak – anak.

Mungkin di daerah lain kegiatan seperti ini merupakan hal yang sudah biasa, namun di wilayah sub. divre 1 Aceh kegiatan ini merupakan hal yang baru. Semenjak awal dioperasikan kembali banyak anak – anak dari sekolah TK dan SD yang berwisata menggunakan moda transportasi KA ini, manfaatnya selain berwisata juga mengenalkan, mengedukasi serta menumbuhkan kecintaan terhadap Kereta Api. Selama perjalanan anak – anak diedukasi tentang Kereta Api dan tentang bagaimana cara mengoperasikan kereta api. Anak – anak ini pun diimbau untuk tidak bermain di sekitar lintasan KA karna merupakan hal yang sangat berbahaya.

Selain anak – anak TK dan SD banyak pula warga yang jauh – jauh datang dari wilayah lain seperti Bireun, Lhokseumawe bahkan Sigli untuk mencoba naik KA yang tiketnya hanya seharga 1000 rupiah ini, selain mengobati penasaran mungkin bagi warga yang lainnya juga ingin bernostalgia naik KA seperti pada saat era KA bergauge 750mm beroperasi di Provinsi Aceh.

Sekedar informasi, di akhir pekan dan hari libur KA ini benar – benar menjadi “KA Wisata” karna pada hari libur okupansi penumpangnya sangat ramai sampai tiket yang dijual pun habis tak tersisa! Masinisnya bilang kalau hari minggu odong – odong menjadi tak laku karna warga lebih senang naik Kereta Api yang sesungguhnya Hahahaha.

KRDI Tiba di Stasiun Bungkaih.

16

Bungkaih +7m

17

KA diberangkatkan Kembali

Kemudian tibalah di stasiun akhir Kr. Mane.

18

Foto bersama rombongan TK Seulanga & TK

Setelah puas mencoba naik KRDI ini kami menuju arah Bireun untuk melihat progress pembangunan jaringan rel di Provinsi Aceh. Perkembangan yang terlihat di lapangan adalah sedang ada pembangunan lanjutan di underpass Jalinsum Medan – Banda Aceh dan juga pemasangan girder Jembatan KA di Blang Keude Kec. Gandapura, Kab Bireun (5.232178, 96.884586).

1920

Setelah itu kami sempatkan mampir ke mess crew KA yang berada di Stasiun Bungkaih untuk beristirahat sejenak dan membersihkan diri.

22

KRDI sedang beristirahat dan dibersihkan di Dipo.

21

NR 1435mm terparkir di Bungkaih.

Sebelum pulang kami diajak untuk menghadiri syukuran di rumah salah satu karyawan di stasiun dan ternyata beliau adalah petugas loket yang melayani kami di Stasiun Kr. Mane pada pagi tadi Hahaha.

23

Makan – Makan.

Setelah acara selesai kami pun pulang ke Medan dengan hati yang senang dan perut yang kenyang! 😛

Tak lupa pada tulisan kali ini kami pun mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada crew KA Divre 1 yang telah memperkenankan kami untuk ikut dalam dinasan pada hari itu dan memperkenankan kami untuk beristirahat di mess crew KA Bungkaih. Selamat bertugas dan sampai berjumpa kembali di lain kesempatan!

Salam, Divre 1 Raifans

Penyesalan Selalu Datang Terlambat, Jejak Lori di Sawit Seberang

Come up to meet you, tell you I’m sorry
You don’t know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I set you apart

Sepenggal kalimat diatas merupakan lirik dari sebuah lagu yang berjudul The Scientist milik grup musik rock-alternative asal Inggris Coldplay. Lirik lagu ini menggambarkan sebuah penyesalan  yang amat mendalam ketika seseorang ingin menemui kekasihnya namun semuanya telah terlambat dan tak ada gunanya lagi. Berbicara tentang kata ‘penyesalan’ & ‘terlambat’ maka kita semua pasti pernah mendengar ungkapan “Penyesalan selalu datang terlambat”. Sebuah kalimat sederhana nan bermakna yang pastinya tidak asing lagi di telinga kita. Dan saya rasa sebagian orang pasti pernah mengalami seperti apa yang diungkapkan oleh kalimat sederhana tersebut, termasuklah diri saya sendiri, sehingga saya tergelitik untuk menuliskan sebuah tulisan tentang salah satu cerita ‘penyesalan terbesar’ saya halaman di blog Divre 1 Railfans ini.

Bagi kami & saya secara pribadi salah satu penyesalan terbesar selama menjalani hobby yang sangat saya cintai ini adalah ketika saya dengan mudahnya melewatkan kesempatan dan sama sekali tidak peduli untuk mendokumentasikan salah satu jaringan Decauville Train (Kereta Muntik) di salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di wilayah Sumatera Utara. Jaringan rel kereta muntik yang dimaksud adalah milik PT. Perkebunan Nusantara II (PTPN II) yang berada di Kecamatan Sawit Seberang, Kabupaten Langkat. Padahal jaringan rel lori muntik perkebunan bergauge 700mm di wilayah tersebut merupakan satu-satunya dan yang terakhir dimiliki oleh PTPN yang masih aktif sampai melewati era millenium bahkan hingga medio 2010-an, sedangkan jaringan rel kereta muntik milik PTPN di wilayah lain seperti di perkebunan Dolok Ilir, Kabupaten Simalungun yang jaringan rel-nya membentang puluhan kilometer sampai wilayah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Gunung Bayu dekat stasiun Perlanaan sudah hilang sejak awal tahun 90-an bahkan jejaknya pun sudah sangat sulit untuk ditemukan.

Jaringan rel lori muntik pengangkut kelapa sawit milik PTPN II Sawit Seberang ini memiliki jaringan rel yang sangat luas, jika dilihat dari bekas railbednya mulai dari pabrik hingga ujung terjauh railbed yang masih dapat ditelususuri jaraknya mencapai kurang lebih 10 kilometer, belum lagi ditambah dengan jalur cabang yang terkoneksi dengan stasiun Tanjung Slamat (Lintas Binjai – Besitang) maupun jalur – jalur cabang menuju ke dalam areal perkebunan kelapa sawit yang cukup banyak jumlahnya. Saya tidak tahu pasti berapa kilometer total keseluruhan panjang jaringan rel di wilayah PTPN II Sawit Seberang ini, konon pada era kolonial dulu jaringan rel-nya membentang dan terkoneksi dengan wilayah perkebunan Gohor Lama yang jaraknya kira-kira sekitar 30 kilometer. Hal ini pun dapat dibuktikan dengan beberapa bekas pondasi jembatan rel muntik yang masih bisa dilihat di sisi jalan raya Stabat – Tangkahan.

Tanda panah merah, eks. pondasi jembatan muntik | Foto : Google Street View

Cerita tentang penyesalan ini dimulai dari tahun 2012 ketika kami melakukan penelusuran jalur KA non – aktif Binjai – Besitang, di perjalanan pulang menuju Medan seusai kami mendokumentasikan kondisi stasiun Besitang dan melakukan penelusuran terhadap stasiun Tanjung Pura (pada saat itu kami salah informasi dan malah mendapatkan halte Kuala Pesilam yang pada saat itu kami kira bangunan stasiun Tj. Pura) kami melewati ‘jalan belakang’ karna tujuan kami pada saat itu adalah menuju stasiun Tanjung Slamat yang berada di Kecamatan Padang Tualang. Setelah mendokumentasikan stasiun Tj. Slamat kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Medan, dan sekitar 3 kilometer dari stasiun kami melewati perlintasan rel muntik yang berada di persimpangan persis di depan Kantor Kepolisian Sektor Padang Tualang. Itulah jaringan rel kereta muntik ketiga yang saya lihat di Sumatera Utara selain rel muntik di Bunut & Aekloba yang pertama kali saya lihat tahun 2009.

Foto 1, 2012

Perlintasan sebidang rel menuju ke arah Pabrik

Perlintasan sebidang rel menuju ke arah Pabrik

Foto 2, 2012

Rel bercabang menuju kebun.

Rel bercabang menuju kebun.

2 foto diatas adalah hasil dari kebodohan saya pada saat itu dan juga sesuatu yang harus saya sesali di kemudian hari, kemalasan saya untuk mengabadikan sebanyak – banyaknya apa yang sedang saya lihat pada saat itu menjadi sebuah penyesalan yang tidak ada gunanya. Kenapa? Karna ketika saya punya kesempatan untuk kembali lagi ke tempat itu di bulan Agustus 2015 atau 3 tahun kemudian, semuanya telah berbeda, hilang dan tak akan mungkin kembali lagi.

25 Agustus 2015

11947482_1045305458836654_7174466340083851746_n

tersisa sebagian rel yang tak bisa dicabut/tertimbun

Dibelakang foto kedua dari tahun 2012 ada sebuah lokomotif Muntik Hokuriku bernomor 15 yang teronggok di sisi jalan, kebodohan kedua yang saya sesali kemudian adalah pada saat itu saya tidak mendokumentasikannya, sehingga saya tidak punya dokumentasinya sama sekali. Namun sahabat kami Mbah Deni Okta dan Yudha sempat mendokumentasikannya di bulan November 2014 sebelum lokomotif itu dipindahkan ke areal pabrik dan jaringan relnya pun hilang selamanya.

14620170_1799315770348318_49857920_n

Hokuriku No. 15 | Foto : Yudha

whatsapp-image-2016-10-10-at-9-29-48-am

whatsapp-image-2016-10-10-at-9-29-49-am
Hokuriku No. 15 | Foto : Deni Okta

 

Di awal tahun 2016 secara tidak sengaja saya melihat foto – foto yang sangat luarbiasa milik Mr. Joachim Lutz di account flickrnya, dokumentasi dengan moment yang tidak akan mungkin terulang kembali tentang keberadaan Decauville Perkebunan Kelapa Sawit di wilayah Kabupaten Langkat.

Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang, unweit Medan (Sumatra, Indonesien), Juli 2008

Ket : Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang D 05 (Diema 4428/1980), unweit Medan (Indonesien, Insel Sumatra), 31.7.2008 | Foto : Joachim Lutz

Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang (Sumatra, Indonesien),  Juli 2008

Ket : Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang D 16 II (Hoku 6142-2/1985, HDB-6LS), unweit Medan (Sumatra, Indonesien), 31.7.2008 | Foto : Joachim Lutz

Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang (Sumatra, Indonesien),  Juli 2008

Ket : Palmölplantage PT PN II Kebun Sawit Seberang D 16 II (Hoku 6142-2/1985, HDB-6LS), unweit Medan (Sumatra, Indonesien), 31.7.2008 | Foto : Joachim Lutz

Ketika itulah baru saya tersadar dan berfikir untuk kembali lagi kesana dan berharap masih ada muntik yang beroperasi di sekitar pabrik mungkin masih ada yang mengarah ke selatan pabrik. Namun……

I had to find you, tell you I need you”

Sayang seribu sayang, Ketika saya dan mbah Rio berkesempatan kembali dan menelusuri lebih jauh lagi menuju areal pabrik di bulan Juli 2016 ternyata sudah tidak ada yang beroperasi lagi. Yang ada hanyalah jejak – jejak peninggalan yang menjadi pengingat bahwa di wilayah itu selama berpuluh – puluh tahun pernah beroperasi muntik penarik gerbong kelapa sawit.

Salah satu peninggalan luar biasa yang masih bisa disaksikan adalah Jembatan Baja yang membentang sepanjang 70 meter melintasi sungai Batang Serangan, Fungsi jembatan ini dulunya selain sebagai jembatan untuk jalur muntik juga sebagai satu – satunya jembatan penunjang aktivitas warga yang dilewati oleh kendaraan roda dua sampai kendaraan berat pembawa buah sawit dan truk CPO yang melintas dari/menuju Kota Sawit Seberang. Jembatan baja yang dibangun pada tahun 1931 telah digunakan selama 84 tahun, namun pada tahun 2015 setelah rel yang melintasi jembatan dicabut dan setelah selesainya pembangunan jembatan pengganti yang baru disebelahnya maka jembatan baja ini sama sekali sudah tidak digunakan lagi.

Citra satelit sebelum dibangun jembatan baru | Foto : Google Earth

Citra satelit sebelum dibangun jembatan baru | Foto : Google Earth

Dokumentasi Juli 2016 :

 

Jembatan Muntik

Jembatan Muntik

Deli NY - 1931

Deli NY – 1931

Jembatan Baru & Lama

Jembatan Baru & Lama

Foto akhir tahun 2014 saat jembatan muntik ini masih digunakan kendaraan, masih ada rel-nya :

Akhir 2014 | Foto : Rio Andika

Akhir 2014 | Foto : Rio Andika

Railbed yang tersisa dari jaringan rel kereta muntik di Sawit Seberang, Kab. Langkat :

eks. railbed menuju area pabrik

eks. railbed menuju area pabrik

 

 

eks. railbed menuju kebun

eks. railbed menuju kebun

eks. railbed dengan rel yang tertanam di sisi jalan raya

eks. railbed dengan rel yang tertanam di sisi jalan raya

Akhir dari tulisan kali ini adalah, jangan pernah malas untuk mendokumentasikan sesuatu yang kita senangi, apalagi hal – hal yang memiliki nilai historis tinggi seperti jaringan rel muntik ini. Belanda negara yang menjajah Indonesia meninggalkan banyak hal – hal baik untuk negara ini, tapi sayang untuk merawatnya pun kita tidak bisa, malah menghancurkannya tanpa bisa membangunnya kembali.

Bonus, Pics by Google Live View.

Teronggok dalam pabrik

Teronggok dalam pabrik

 

Salam

[R] – Divre 1 Railfans

 

Ujicoba KA Barang Angkutan Petikemas Divre 1 Sumatera Utara

Kamis (28/04) dijalankan sebuah Kereta Luar Biasa (KLB) yang akhirnya muncul kembali setelah 10 tahun lebih berhenti beroperasi. Adalah KLB bernomor 10971 yang membawa Petikemas dari Area PT Sumatera Tobacco Trading Company (STTC) menuju Pelabuhan Belawan. Ujicoba kali ini mengawali kembalinya kerjasama yang sempat terhenti antara PT Kereta Api Divisi Regional 1 Sumatera Utara (PT KAI Divre 1 SU) dengan PT STTC untuk mengangkut boks-boks Petikemas melalui Jalan Baja menghindari padatnya Jalan Lintas Sumatera Medan – Tebing Tinggi.

IMG_2497

IMG_2533

Harapan kami tentunya semoga hal ini dapat berjalan baik dan diikuti pula oleh perusahaan – perusahaan logistik lainnya untuk mengikuti jejak PT STTC untuk mengurangi beban jalan raya dengan menggunakan angkutan KA. Ayoooo masih banyak tuh Gerbong Datar yang belum terpakai di Divre 1 !! hihihi

Salam

Divre 1 Railfans

 

Melihat Lori di Aekloba

Halo, kami punya cerita lagi nih! Cerita kali ini adalah tentang salah satu jaringan Decauville Train di Sumatera Utara atau yang lebih populer dengan istilah “Muntik”. Jaringan “Muntik” yang akan kami bahas adalah jaringan Decauville aktif milik Pabrik PT. Socfindo yang berada di Desa Aekloba, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Berdasarkan cerita yang kami dapat dari salah seorang pekerja di pabrik tersebut adalah bahwa jalur “muntik“ ini jalan setiap hari kerja (senin – sabtu) yang memiliki panjang sekitar 7km dan menghubungkan antara pabrik dengan tempat muat buah kelapa sawit atau yang biasa disebut dengan istilah “tuangan”. Pabrik PT. Socfindo Aekloba sendiri memiliki 2 tuangan buah kelapa sawit yang dilayani oleh jaringan “muntik” ini, pertama mengarah ke perkebunan di wilayah utara pabrik yang melintasi Jalan Lintas Sumatera Medan – Pekanbaru (tuangan 1) sejauh ± 9km dan yang kedua mengarah ke areal perkebunan di wilayah selatan pabrik yang jalurnya berpotongan dengan rel KA aktif Medan – Rantauprapat (tuangan 2) yang berjarak ±5km. Pada saat Divre1Railfans mengunjungi pabrik tersebut pada hari Minggu 10 April 2016 yang lalu, terlihat tidak ada aktifitas di areal pabrik dikarenakan hari libur. Jadi tidak ada juga kegiatan angkutan lori yang melayani lintasan kebun s/d pabrik.

Jadi, langsung saja! Berikut dokumentasi Perjalanan Divre1Railfans menuju Aekloba :

Perjalanan dimulai dari Medan menggunakan KA U44 Sribilah Pagi.

001

CC 201 96 Melayani KA U44 Sribilah Pagi, 10 April 2016.

002

Berangkat Menuju Aekloba, K1 0 81 07.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama 4 jam, 30 menit kamipun tiba di Stasiun Aekloba.

Stasiun Aekloba

Stasiun Aekloba.

Setelah beristirahat sejenak di Stasiun Aekloba kami berjalan ke arah sinyal keluar menuju Medan.

Jalur Lori/Muntik yang memotong rel aktif Kisaran - Rantauprapat

Jalur Lori/Muntik yang memotong rel aktif Medan – Rantauprapat.

Sinyal untuk lori dari arah Kebun (Tuangan 2)

Sinyal untuk lori dari arah Kebun (Tuangan 2)

Rel Lori/Muntik menuju Kebun (Tuangan 1)

Rel Lori/Muntik menuju Kebun (Tuangan 1)

Lihat Relnya 😀

Lebar Penampang Rel Lori yang hanya selebar ruas Jari.

Lebar Penampang Rel Lori yang hanya selebar ruas Jari.

Suasana di Areal Pabrik.

Gerbong Lori Berisi Penuh Sawit di Pabrik Socfindo Aekloba

Gerbong Lori Berisi Penuh Sawit di Pabrik Socfindo Aekloba.

Rangkaian Gerbong yang sudah dibongkar muatannya.

Rangkaian Gerbong yang sudah dibongkar muatannya.

Dan…

The Aekloba Squad!

The Aekloba Squad!

Hanya Stabling Karna Libur.

Hanya Stabling Karna Libur.

'The Number 1' Stabling di Depan 'Bengkel Loco'.

‘The Number 1’ Stabling di Depan ‘Bengkel Loco’.

Yang sedang menjalani perawatan 😀

Gerbong lori yang sedang menjalani Perawatan di 'Bengkel Seksi Gerbong'

Gerbong lori yang sedang menjalani Perawatan di ‘Bengkel Seksi Gerbong’

Narsis Dulu! 😀

DR1RF

DR1RF

Setelah puas mendokumentasikan berbagai hal mengenai lori – lori tersebut kami pun bersiap untuk pulang kembali ke Medan. Tapi sebelum pulang…..

Narsis Sekali Lagi!

Narsis Sekali Lagi!.

Dan akhirnya pada pukul 16.59 jemputan kami menuju Medan datang.

KA U45 tiba di Stasiun Aekloba.

KA U45 tiba di Stasiun Aekloba.

Demikianlah cerita perjalanan kami, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai perkeretaapian di Sumatera Utara.

Salam, Divre1Railfans

Divre 1 Railfans to Aceh – Part 2

Halo, Divre1Railfans balik lagi!

Kali ini tentang cerita lanjutan dari perjalanan kami ke Provinsi Aceh beberapa waktu yang lalu (baca : Part 1 )

Di bagian ke 2 ini akan menceritakan tentang kondisi sarana dan prasarana perkeretaapian di Sub-Divre 1.1 Aceh yang beroperasi pada tanggal 1 Desember 2013 s/d Agustus 2014 sebelum pada akhirnya berhenti beroperasi dikarenakan alasan keamanan dan kurangnya dana operasional. Jaringan perkeretaapian Aceh yang sempat beroperasi ini memiliki panjang kurang lebih 11 kilometer dengan 3 stasiun pemberhentian yaitu Krueng Mane – Bungkah dan Krueng Geukuh, dimana jarak antar stasiun sekitar kurang lebih 5 kilometer.

Foto – Foto Kondisi Sarana & Prasarana Perkeretaapian Sub-Divre 1.1 Aceh 20 Maret 2016.

Stasiun Krueng Mane

001

Krueng Mane

Stasiun ini merupakan stasiun awal (Kilometer 0+000) di lintas ini dan juga titik awal pembangunan jalur KA menuju Bireun. Stasiun yang berada di Kecamatan Muara Batu di Kabupaten Aceh Utara ini juga hanya berjarak kurang lebih 100m dari bibir pantai yang menghadap langsung ke Selat Malaka. Kondisi stasiun ini sendiri tak terawat, kaca-kaca di bangunan ini banyak yang pecah dan ruangan didalamnya pun berantakan.

002

Emplasemen Stasiun Krueng Mane, 100m dari Bibir Pantai Selat Malaka

003

Foto Keluarga di Stasiun Krueng Mane

Kondisi lintasan KA Antara Kr. Mane – Bungkah yang berada di sisi Jalan.

004

Stasiun Bungkah

Stasiun yang berada di Desa Bungkaih, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara ini merupakan Stasiun yang berada ditengah-tengah antara Kr. Mane & Kr. Geukuh, di stasiun ini pula terdapat sebuah Dipo tempat pemeliharaan Sarana KRD yang beroperasi di lintas ini. Kondisi Stasiun ini cukup terawat karna ada yang merawat dan menjaganya, hal ini sepertinya disebabkan oleh adanya sarana yang dirawat juga (KRD) di Stasiun ini.

FYI, KRDI yang berada di Aceh ini merupakan KRDI generasi pertama di Indonesia yang dibuat oleh INKA pada tahun 2008 bersamaan dengan KRDI Kaliagung & Banyubiru yang beroperasi di Daop 4 Semarang. Namun KRD ini memiliki perbedaan gauge dengan KRD lainnya. Perbedaan lain juga terletak pada rangkaiannya, Jika KRDI lain di Indonesia memiliki 4 kereta pada tiap rangkaiannya KRDI Aceh hanya terdiri dari 2 kereta saja.

005

Stasiun Bungkah

007

Dipo KRD

KRDI yang hanya terdiam di dipo.

008

KRDI Aceh

009

Nomor Sarana KRDI Aceh

Foto bareng KRDI Aceh dari luar Dipo

010

Foto Keluarga di Bungkah

Setelah dari Stasiun Bungkah kami menuju Stasiun terakhir yaitu Kr. Geukuh, dan kami menemukan jembatan yang bentuknya menurut kami cukup unik di lintas ini. Kenapa unik? Karna jembatan ini merupakan jembatan beton yang memiliki rangka baja diatasnya. 5.256890, 96.975240

Stasiun Krueng Geukuh

Stasiun terakhir di lintas ini, berada di Kota Krueng Geukeh dan bersebelahan dengan Pelabuhan Kreung Geukeh. Namun justru kondisi stasiun yang paling dekat dengan keramaian masyarakat ini malah lebih parah dibanding 2 stasiun sebelumnya. Kondisinya selain tidak terawat juga ditengah emplasemennya ditumbuhi pohon yang ukurannya sudah cukup besar –”

013

Bangunan Stasiun Krueng Geukueh

014

Emplasemen Stasiun Kr. Geukeuh arah Lhokseumawe

015

Emplasemen Stasiun Kr. Geukueh arah Bungkah

Di Stasiun ini pula terdapat Gerbong Penolong yang baru tiba di Aceh pada bulan Februari 2015 lalu (Link Berita) Kondisi Gerbong Penolong bernomor SN 0 14 01 ini tidak terawat, terpalnya pun sudah rusak padahal tidak pernah beroperasi sejak sarana tersebut tiba di Aceh.

016

SN 0 14 01

Demikianlah kondisi Sarana dan Prasarana perkeretaapian di Sub.Divre 1.1 Aceh, semoga perkeretaapian Aceh dapat bangkit dan beroperasi kembali.

Bonus, Stasiun Krueng Geukuh eks ATT/ASS

iMG_1826

Stasiun Kr.Geukuh Atjeh Tram

Sekian dari kami, Salam.

Divre 1 Railfans

 

Divre 1 Railfans to Aceh – Part 1

Halo teman-teman dimanapun berada! Divre1Railfans balik lagi nih!

Kali ini kami mau berbagi sedikit cerita tentang perjalanan tanggal 19-20 Maret 2016 yang lalu, di tanggal itu kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Provinsi Aceh untuk melihat dengan ‘mata kepala sendiri’ kondisi perkeretaapian di Tanah Rencong. Target perjalanan ini sendiri adalah melihat secara langsung pembangunan Jalur KA di wilayah ini, terutama untuk menjawab rasa penasaran kami tentang lebar rel (gauge) yang digunakan dalam lanjutan proyek pembangunan perkeretaapian Provinsi Aceh (Khususnya Wilayah Bireun dan Lhokseumawe).

Perjalanan menuju Bireun dimulai dari Medan pukul 22.30 dan setelah menempuh jarak sekitar 400km dengan waktu tempuh kurang lebih 6 Jam kami pun tiba di sebuah SPBU di Kota Bireun untuk beristirahat dan menunggu matahari terbit sebelum memulai ‘misi’ 😛

Misi pun dimulai! Setelah cukup beristirahat kami memulai misi dengan mencari informasi tentang pembangunan rel KA di daerah ini, kami pun bertanya kepada petugas SPBU tentang hal tersebut dan ia mengatakan bahwa ada pembangunan jalur KA berlokasi kurang lebih sejauh 5 km ke arah utara (arah Banda Aceh) dari  SPBU ini. Setelah menerima informasi tersebut kami pun menuju arah yang di tunjuk untuk melihat secara langsung. Tetapi setelah 5 Km kami tidak menemukan adanya pembangunan Jalur KA yang kami temui adalah…

Gudang Persediaan Tempat Bantalan Ditumpuk!! 😀

Lokasi : 5.202629, 96.646966

Ket : Tumpukan Bantalan di Gudang Persediaan Milik Ditjen KA di Kab. Bireun (Lokasi : 5.202629, 96.646966)

pas mutar balik eh dapat bonus ini 😛

4

Eks Railbed 700mm AT/ASS

5

Perlintasan Sebidang eks Gauge 700mm antara Bireun – Banda Aceh

Karena tidak mendapatkan apa yang kami inginkan kami melanjutkan perjalanan menuju Pusat Kota Bireun untuk Sarapan terlebih dahulu, lalu kami kembali melanjutkan misi untuk mencari railbed yang sedang dibangun. Di Kec Kuta Blang menemukan ini :

Ket : Railbed di Greung Gampong, Kutablang (5.210887, 96.814442)

Ket : Jembatan BH 636 (5.210887, 96.814442)

Kami pikir ini adalah railbed yang akan atau sedang dikerjakan sekarang, akan tetapi setelah dipelajari kembali ternyata Railbed diatas adalah Railbed yang dibangun di era pemerintahan Presiden SBY yang sepertinya tidak akan digunakan lagi.

Kembali ke Jalinsum untuk menuju Lhokseumawe akhirnya yang kami cari ketemu juga!

Taaaraaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Lokasi Tepatnya berada di Cot Tunang Kec. Gandapura, Kab. Bireun | Kordinat :5.214735, 96.849465

Ket : Underpass Jalan Desa

14

Foto Bareng dulu!

Naik Keatas Railbed yang tingginya kira-kira 6-7m

Ket : Pemandangan Diatas Railbed

Bergeser Sejauh 300m dari lokasi tadi, underpass lagi..

15

Underpass KA

Dan…. 😀

Akhirnya melihat langsung juga setelah sebelumnya cuma bisa tau dari Sini

16

Underpass Jalinsum Medan-Banda Aceh

17

Underpass Jalinsum Medan – Banda Aceh

18

Lihat Tingginya 😀

Kemudian naik ke atas railbed yang tingginya luarbiasa ini..

19

Foto Underpass Tampak Atas

Setelah itu balik badan, jalan sedikit.. dan…..

Ket : Tumpukan Bantalan dan Rel gauge 1435mm terpasang.

FYI : sudah disaksikan dengan mata kepala sendiri tidak ada regauge, rel terpasang adalah rel bergauge 1435mm. Jadi untuk foto2 pembangunan KA Aceh yang sempat menjadi polemik di kalangan railfans (Disini dan Disini) adalah rel foto bergauge 1435mm.

Di lokasi ini bantalan dan rel yang digunakan adalah cabutan dari railbed trase eks AT/ASS yang pernah direvitalisasi di zaman pemerintahan Presiden SBY namun mendapat penolakan dari warga karna trase yang melewati pemukiman dan disisi jalan lintas sumatera. Buktinya :

23

Cap Bantalan Bertanggal 22 Februari 2008

24

Foto Lagi diatas rel gauge 1435mm

Lanjutttttt!! Ke Lokasi Berikutnya di Cot Puuk Kec. Gandapura, Kab. Bireun | Kordinat : 5.224872, 96.873585

Ket : Trase Lama Yang Pernah direvitalisasi dan Trase Baru Yang sudah terpasang rel.

Next Location! Blang Keude Kec. Gandapura, Kab Bireun | Kordinat : 5.232178, 96.884586

28

Jembatan KA

29

Jembatan KA

30

Sisi Lain

31

Lebih Dekat

32

Pondasi

Setelah Jembatan Grider, relnya mulai menurun dan mendekati wilayah Stasiun Krueng Mane

33

Ketemu Underpass Lagi

34

Menurun

Lokasi foto diatas sama dengan foto Ini

Dan berakhir disini! Km. 0+000 sudah tersambung dengan jalur KA Perintis yang telah ada di Ujung Stasiun Krueng Mane.

35

Km 0+000

Demikian cerita kami tentang dokumentasi proyek pembangunan KA Aceh, semoga cerita ini bisa menjawab rasa penasaran teman-teman tentang perkembangan perkeretaapian di wilayah Provinsi Aceh. Cerita selanjutnya mengenai kondisi sarana dan prasarana KA yang telah ada akan dilanjutkan di Part ke 2.

Terimakasih!! 😀

Salam Divre 1 Railfans

%d blogger menyukai ini: